Pages

Tuesday, March 13, 2012

Gotye Mulai Mendulang Sukses di Eropa dan Amerika

Nama Gotye agak asing ditelinga, penyanyi asal Belgia yang hijrah ke Australia ini awalnya sukses luar biasa di Australian Music Chart tahun 2011 lalu, rupanya angin mulai berhembus kencang hingga sukses juga di Eropa dari Belgia dan Belanda.

Bulan Februari-Maret ini sudah mulai berkibar cukup kencang hingga menjadi lagu No. 1 di UK Top Chart dengan debut tembangnya berjudul "Someone That I Used To Know". Musik indie-pop Australia ini juga sudah mulai masuk di US Top Twenty minggu ini meskipun belum mendapat kehormatan memimpin dikibaran musik setempat.

Lagu yang berirama berbeda dengan lagu pop pada umumnya ini sangat luar biasa. Gotye merupakan adaptasi dari Goultier dari Bahasa Perancis. Mungkin bahasa Perancis karena sepertiganya dipakai sebagai bahasa resmi oleh penduduk Belgia.

Selain itu nama Gotye juga sama punya persamaan dengan Walter dalam Bahasa Inggris. Namun nama asli Gotye adalah De Becker yang sebetulnya berbahasa  bilingual antara Inggris dan Flemish (Belgia-Belanda) atau orang Belgia yang berbahasa Belanda.

THE LYRICS


"Somebody That I Used To Know"
(feat. Kimbra) by GOTYE


[Gotye:]
Now and then I think of when we were together
Like when you said you felt so happy you could die
Told myself that you were right for me
But felt so lonely in your company
But that was love and it's an ache I still remember

You can get addicted to a certain kind of sadness
Like resignation to the end, always the end
So when we found that we could not make sense
Well you said that we would still be friends
But I'll admit that I was glad it was over

But you didn't have to cut me off
Make out like it never happened and that we were nothing
And I don't even need your love
But you treat me like a stranger and I feel so rough
No you didn't have to stoop so low
Have your friends collect your records and then change your number
I guess that I don't need that though
Now you're just somebody that I used to know

Now you're just somebody that I used to know
Now you're just somebody that I used to know

[Kimbra:]
Now and then I think of all the times you screwed me over
Part of me believing it was always something that I'd done
But I don't wanna live that way
Reading into every word you say
You said that you could let it go
And I wouldn't catch you hung up on somebody that you used to know

[Gotye:]
But you didn't have to cut me off
Make out like it never happened and that we were nothing
And I don't even need your love
But you treat me like a stranger and I feel so rough
And you didn't have to stoop so low
Have your friends collect your records and then change your number
I guess that I don't need that though
Now you're just somebody that I used to know

[x2]
Somebody
(I used to know)
Somebody
(Now you're just somebody that I used to know)

(I used to know)
(That I used to know)
(I used to know)
Somebody

Move Your Feet, Junior senior Jingle Lagu Iklan Mizone

Banyak yang penasaran dengan lagu ini gara-gara iklan Mizone, mungkin yang Mika dengan "Love Today" dan The Ting Tings dengan "Great DJ" sudah banyak yang bisa menebak, lalu siapa dengan satu lagunya lagi? Inilah Junior Senior dengan "Move Your Feet" untuk mengiringi iklan minuman tersebut. 


Lagu ini sebetulnya direlease tahun 2003 tapi kalau kita cermati iramanya memang sangat cocok untuk ngedance, marilah kita goyang sambil menggerakkan kaki kita.


Lagu "Ai Se Eu Te Pego" Michel Telo, Sukses di Eropa

No. 1 in European Hits now dan juga negara-negara Amerika Latin yang dibawakan Michel Telo, vocalist asal Brazil. Tidak saja Trio Macan dengan Iwak Peyeknya, Ai Se Eu Te Pego yang dalam Bahasa Inggrisnya Oh, If I catch you ini dipopulerkan gara-gara beberapa pemain bola salah satunya Cristiano Ronaldo ketika mencetak goal pertamanya melawan Malaga FC. 


Kini lagu ini sukses di seantero Eropa termasuk Italia, Jerman, Belanda, spanyol, Bulgaria, Swiss dan Portugal. Hmmm agaknya lagu ini belum masuk dan terdengar suksesnya, atau karena dalam bahasa Brazilian Portuguese? kita tunggu aja


Tuesday, August 9, 2011

Katy Perry Mencatut Kesuksesan Rebecca Black dalam Video Musik "Last Friday Night (T.G.I.F)



Keajaiban Youtube terjadi dimana mana, mungkin chance orang tidak terkenal dapat menjadi terkenal. kalau di Indonesia seperti Shinta dan Jojo mendadak jadi ngetop siapa sangka mahasiswa biasa biasa saja dapat tiba-tiba jadi fenomenal gara-gara Keong Racun di Youtube, Briptu Normanpun sempat meraih panen lewat Chaiya Chaiya dan dari Mataram sempet jadi bahan gurauan dengan Udin sedunia.


Fenomena seperti itu memang kerap terjadi Justin Bieber akhirnyapun jadi buah bibir karena kepiawaian abg itu bernyanyi R&B. Di Amerika Serikat sono, kebetulan memang tidak semua bahan pembicaraan menarik perhatian publik di Indonesia, kecuali tentu saja yang suka berkonsultasi sama mbah Google. Sebut saja Rebecca Black, saat ini menjadi bulan-bulanan khususnya teenager disana karena tekatnya menjadi penyanyi yang sangat didukung oleh ibunya hingga keluar dompet mamanya sekitar US$ 4.000 hanya untuk menjadikan anaknya terkenal memang luar biasa. Ibu Rebecca Black rela untuk keluar duit demi anaknya ini untuk selanjutnya memanfaatkan Ark Music Factory yang berbasis di Los Angeles ini untuk menggarap single Rebecca yang berjudul Friday. Oleh Ark Music Factory dimasukkanlah kedalam you tube pada bulan Ferbuary 2011 dan juga dijual dalam Itunes. Entah apa yang memberi keberuntungan bagi Rebecca Black untuk menjadi bahan pembicaraan masyarakat luas di AS, mungkin karena dara yang kelahiran 21 Juni 1997 ini memiliki hoki. Padahal dalam lagu Friday ini cuma diceritakan bahwa setiap anak sekolah selalu pengen cepat diakhiri hari Jumat sehingga mereka dapat terbebas dari urusan sekolah.



Menurut hemat sementara kalangan lagu itu tidak menarik, dan dapat dikatakan buruk, tapi dalam perolehan di youtube semakin banyak orang penasaran semakin banyak orang ingin menontonnya tidak jauhlah dengan Shinta Jojo, Briptu Norman dan Udin Sedunia. Rupanya para ABG di Amrik memang menggemarinya, sosok Rebecca Black yang bersahaja, bukan artis idola macam Britney Spears, Rihanna maupun Avril Lavigne tapi kesuksesannya luar biasa.

Tidak hanya itu saja Glee, Musical Series yang saat ini banyak disukai penonton TV banyak meremake lagu-lagu yang sudah hits untuk dibawakan juga kena imbas untuk meremake lagu Friday ini dalam session Prom Queen. Lihat saja di youtube muncul pengekor Rebecca dengan segala macam versinya yang seperti mewabah.




Katy Perry, vocalis pop cewek yang setelah mengeluarkan album berjudul "Teenage Dream" bertubi-tubi mengeluarkan single seperti California Gurls, Teenage Dream, Firework, E.T dan terakhir Last Friday Night (T.G.I.F). Moment yang dlepar Katy sangatlah tepat disaat Rebecca Black lagi ngetop lagus single yang dikemaspun mirip bertema tentang hari Jumat (Friday). Dalam video Rebecca Blackpun dihadirkan dan dalam video tersebut sebagai teman Katy. Katy berperan sebagai Rebecca, namun digambarkan sebagai nerdy, atau remaja kutu buku lengkap dengn segala aksesoris pellengkapan pesta.


Hal lain yang bikin video musik itu heboh adalah keterlibatan orang-orang terkenal seperti Kenny G sebagai Uncle Kenny, juga kelompok musik Issac, Taylor and Zac dari Hansons, Kevon McHale (Glee), Corey Scott Feldman (Actor) dan Debbie Gibson, penyanyi teenage idol era tahun 80an.

Memang benar dalam dunia entertainment terkadang tanpa diduga, bahkan keisengan seseorangpun dapat segera dimanfaatkan, namun fenomena yang terjadi di Indonesia akan selalu hilang dengan sendirinya. Oleh karena itu, mutlak perlu dipersiapkan apabila who knows apabila anda tiba tiba menjadi seorang superstar dadakan maka yang perlu anda pikirkan adalah sebuah konsep dan seorang manager yang handal sehingga penampilan anda tidak begitu begitu saja seperti Britu Norman dan yang lain-lain yang hanya mengandalkan satu tampilan yang akan selalu monoton dan cepat membuat bosan masyarakat. Maka yang perlu anda pikirkan adalah melawan kemonotonan menjadi yang lebih kreatif. Sanggupkah anda?

Penulis: Pramudya Sulaksono, pemerhati hiburan, musik dan masalah sosial

Wednesday, July 27, 2011

Kejar-kejaran Back-To-Back-Hits Antara Rihanna dan Lady Gaga


Soal selera itu wajar. Ada sementara kalangan lebih suka Lady Gaga karena fashionable, tapi ada juga yang lebih suka Rihanna. Sah-sah saja ada yang keduannya tidak disukai. Namun kedua artis ini antara tahun 2010-2011 berlomba-lomba untuk mencetak hits. Konon menurut Yahoonews tahun ini Rihanna lebih disukai melalui facebook dengan jumlah yang sedikit lebih banyak dibandingkan Lady Gaga.

Lady Gaga memang selalu spectacular dengan performancenya terutama video clip nya, setelah The Fame yang kemudian diextended dengan The Fame: Monster nampak si Mother Monster tidak main-main dengan video clipnya yang bombastis. Sebut saja dalam video clip "Telephone" yang berduet dengan Beyonce yang sempet nyeletuk: "You are very very bad girl Gaga!" lengkap sudah perpaduan antara music, fashion, make up sangat menonjol kalau Lady Gaga selalu heboh dengan berbagai gaya di video clipnya khususnya dalam album The Fame: Monster itu.

Namun, dalam album barunya "Born This Way" belakangan Gaga mengalami banyak kendala yang tidak saja single awalnya "Born This Way" kurang diminati ketimbang spektakulernya album extendednya di The Fame: Monster seperti single "Bad Romance", Alejandro, Telephone,Paparazzi dan Poker Face yang membawa nama Gaga semakin melambung. Single kedua dari second albumnya ini "Judas" Gaga sempat terpentok dengan berbagai ganjalan dari tuduhan memasukkan unsur agama (Kristen) yang ditentang habis-habisan oleh para pendeta Kristen di Libanon, karena Gaga memanfaatkan musiknya dengan unsir-unsur agama Kristennya juga belakangan Gaga berusaha menjual populeritasnya melalui propaganda untuk merangkul kaum minortas LGBT (lesbian, gay, bisexual dan transgender), meskipun usaha ini membuahkan hasil Gaga sebagai ratu baru setelah Madonna dan Kylie Minogue menjadi icon.


Lalu bagaimana dengan Rihanna. Diam-diam Rihanna tahun belakangan ini juga lagi girang-girangnya untuk melempar single yang satu dengan single yang lain, baik dari album "Loud" maupun berbagai album dia kolaborasi dengan berbagai artis dan DJ ternama sebut saja Eminem dengan "I Love The Way You Lie" dan dengan DJ asal Perancil David Guetta dengan "Who's That Chick". Setelah periode tahun 2008-2010, Rihanna sempat tenggelam meskipun di beberapa negara seperti Italia lagu "Te Amo" sempat berkumandang sukses. Album Rated R sempat tergencet dan tenggelam meskipun Rihanna lempar juga single andalan seperti "Russion Roulette" dan "Rude Boy" ditengah hingar bingarnya Lady Gaga dengan album The Fame Monster.

Rihanna yang "Good Girl Gone Bad" sempat sukses diseluruh penjuru dunia dengan "Umbrella" mendadak kalah pamor dengan album Rated R tersebut, padahal Rihanna jauh lebih ngepop dibandingkan album yang menaikkan pamornya itu. Beruntung Rihanna sempat balik lagi dengan album berikutnya yang lebih catchy dan lebih 80's sound seperti "Only Girl (In The World) menyusul suksesnya single featuringnya dengan Eminem di single "I Love The Way You Lie". Berturut-turut single dari album "Loud" dan dari Album kolaborasi dengan yang lain bisa berangsur-angsur mendongkrak pamornya kembali merebut penyanyi cewek terpopuler dengan "What's My Name" Featuring Drake, Who's That Chick (dengan David Guetta), S&M, California King Bed,Man Down dan Cheers.

Single "S&M" ternyata paling ngejual dibandingkan dengan single lainnya dalam album ini. Rihanna yang sekarang ganti warna rambutnya menjadi "merah" dalam single S&M Rihanna kelihatan nampat "nakal" dalam video clip tersebut. Single ini juga memapu menembus Billboard HOT 100 di US dan di UK Chart. Dalam album remix khususnya Rihanna berduet dengan Britney Spears.

Selain Lady Gaga dan Rihanna, terdapat nama-nama penyanyi cewek lain yang juga siap dengan kejar kejaran hits dengan kedua artis ini sebut saja Katy Perry yang mempunyai back-to-back hits dari albumnya Teenage Dream dengan single "California Gurl" (Feat Snoop Doggs), "Teenage Dream", "Fireworks" dan "Last Friday Night (T.G.I.F). Demikian juga dengan Taylor Swift, Nicki Minaj, Adele dan masih banyak lagi.Sementara Lady Gaga siap dengan single berikutnya yaitu "The Edge of Glory" dan mungkin masih banyak hits yang bakal keluar lagi.

Jadi apakah kejar kejaran dengan back-to-back hits di blantika musik dunia ini akan teteap dipopulerkan oleh hits nya Lady Gaga, Rihanna ataukan Beyonce yang baru saja merilis album "4" yang selalu juga mempunya back-to-back-hits seperti sebelum sebelumnya atau mungkin J-Lo yang setelah cerai dengan Marc Anthony kembali meramaikan pasar musik dunia. Kita tunggu saja perkembangan berikutnya.

Oleh : Pramudya Sulaksono (Pengamat Musik dan Sosial)

Thursday, March 24, 2011

Publik Musik Indonesia: Kurang Mengenal Artis dan Musisi Asal Kanada


Mungkin tidak hanya di Indonesia, bahkan di dunia, keberadaan artis-artis dari Kanada kurang banyak dimengerti oleh para fans nya. Di blantika musik Internasional orang lebih mengenal kubu musisi yang berbasis lagu-lagu berbahasa Inggris, sebut saja Amerika Serikat (AS-Kanada), Inggris dan Australia (Australia-New Zealand). Musisi Kanada rata-rata dibayang-bayangi oleh musisi dari AS, sehingga keberadaan mereka sepertinya terlebur antara dua negara ini.

Meskipun demikian beberapa media selalu mengelu-elukan beberapa artis Kanada yang sejak dulu memang membawa nama harum Kanada, sebut saja Bryan Adam, vokalis rock asal Vancouver, British Columbia. Tidak saja Bryan Adams, sederetan nama-nama tenar seperti David Foster, Celine Dion, Alannis Morissette, Avril Lavigne hingga yang sekarang ini banyak digemari para ABG seperti Justin Bieber pun dari Kanada.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwasanya musisi dan artis dari AS sudah dikenal luas dan tidak perlu disebutkan, disamping artis-artis tersebut ternyata masih banyak artis dan musisi lain yang sangat populer tapi banyak pecintanya yang tidak peduli dan tidak mengetahui bahwa mereka adalah warga negara Kanada, sebut saja seperti Michael Buble.

Beberapa pecinta musik ignore Michael Bubble itu dari AS ataukah Kanada, masalahnya kubu David Foster, Michael Buble ini selalu memenangkan penghargaan tertinggi dibidang musik AS yaitu Grammy Awards.

Coba tengok beberapa artis kenamaan yang berasal dari Kanada, di blantika musik pop/rock bahkan jazz selain yang disebutkan diatas juga terdapat, Shania Twain, Sarah McLachlan, k.d. Lang, Nelly Furtado, Chantal Kraviazuk, Diana Krall, Alannah Myles, Daniel Powter, Rufus Wainwright, Gino Vanelli, Loverboy, Neil Young, Nickelback, Glass Tiger, Kon Kan, Rush, Barnaked Ladies, Sum 41, Our Lady Peace, Corey Hart, Paul Anka, Tal Bachman.

Namun sangat disayangkan apresiasi Kanada terhadap para artisnya justru tidak segencar di AS dengan Grammy Awards dan American Music Awards, ataupun di Inggris dengan Brit Awards nya, meskipun beberapa artist tersebut justru sering mendapat perhargaan baik oleh publik musik di AS, Inggris, Australia dan sebagainya seperti David Foster, Michael Buble, Alannis Morissette, Sarah McLachlan dan lain-lain.

Saturday, June 26, 2010

MUSIK INDONESIA : MAJU SECARA KUANTITAS TAPI MUNDUR SECARA KUALITAS





Dalam kurun dekade ini, musik Indonesia boleh dikatakan meriah. Bermunculan pula artis-artis baru, baik dalam skala independent (indy) label maupun artis rekaman major label. Tengok dua dekade lalu artis major label dari bendera Musica Studio’s banyak merajai pasar musik Indonesia, demikian juga dengan major label lain Aquarius, Sony Music, EMI, Universal Music dan Warner Music Indonesia mengalami dan mulai menyemarakkan artis Indonesia dengan berbagai warna musik pop, rock dan alternative Indonesia yang catchy.

Kini seperti wabah muncul kekuatan kekuatan baru label-label yang siap untuk menggempur dominasi mereka seperti Trinity Optima, Nagaswara, E-Motion Entertainment. Meskipun major label sebelumnya masih tetap bertahan untuk berbagi kue dengan label-label baru yang siap dengan penyebarannya melalui gelombang barunya.

Kurun terakhir muncul gelombang musik-musik Indy yang tidak mau disetir selera major label mencoba terobosan baru dengan mengemas musik yang dibilang eksperimentalis dan sesuai dengan konsep yang diemban oleh masing-masing kelompok musik dalam berkreasi. Lihat saja Fast-Forward Record mencoba menyuguhkan warna baru yang mulai berbeda pada era tahun 90an seperti kelompok musik Mocca yang sarat dengan irama Swedish Pop. Belum lagi MTV Indonesia yang masih waktu itu mampu menyemarakkan blantika musik Indonesia secara jauh lebih kreatif dan innovative.

Saat ini indy label dengan artis-artis yang menunjukkan eksistensi musik mereka seperti Anda, Tika and The Dissidents, Indra Hardjodikoro, Endah N Resha dan Melancholic Bitch benar-benar menyuguhkan kualitas musik yang diacungi jempol meskipun dari penjualan pasar tidak seramai lagu-lagu pop kacang goreng, namun kreatifitas mereka tidak perlu dianggap main-main.




Lalu apa jadinya setelah terjadi gelombang baru, mandulnya MTV Indonesia akibat ambisi Global TV yang mencoba merebut simpati merebut kue pasar pertelevisian di Indonesia melalui Variety show macam pendahulunya membuat musik Indonesia yang sebelumnya MTV Indonesia mencoba mencontoh musik dengan era musikalitas sekelas MTV dengan video-video clip yang kreatif mendadak berpaling menjadi lebih hura-hura semodel acara Dahsyat, De Rings dan acara-acara semodel lainnya di televisi swasta. Acara kemasan hura-hura ini menyebabkan perubahan bentuk dengan pengerahan masa bayaran dan iklan terselubung dalam bentuk yang sok-live show itu. Yang penting perusahaan rekaman mampu membayar biaya promosi si artis untuk diorbitkan.

Meskipun MTV juga merupakan sarana promosi namun paling tidak anak-anak kreatif di dalamnya jauh lebih faham mengenai permusikan. Berbeda dengan televisi yang hanya sekedar mengeruk keuntungan semata dan dengan ditambah persaingan ringback tone dari operator-operator alat komunikasi telephone genggam yang mencoba memasuki pasaran mereka dengan cara menjual kode dan mengaktifkan ringtone, maka terjadilah perubahan bentuk yang tidak bisa dibendung lagi.

Major label yang sebelumnya getol menyuarakan lagu-lagu kreatif mendadak tersuruk ikut-ikutan tergelincir dalam arus perubahan bentuk pop distorsi alternatif yang sempat merajai era tahun 90an hingga pertengahan tahun 2000an agaknya tak kuasa menahan bendungan arus laju label-label baru yang kurang kreatif tapi lebih menonjolkan selera pasar dengan harapan ringtone yang dijual melalui lisensi operator komunikasi menjadi lebih dominan ditambah dengan serbuan band-band yang mencoba sok-live di acara gegap gempita televisi semodel Dahsyat, De Rings dan lain-lainnya.

Apa jadinya musik Indonesia sekarang? Majalah Rolling Stones, majalah musik yang tidak main-main dalam mengulas peta permusikan baik dunia dan lokal memang mempunyai visi pendewasaan dalam bermusik. Pembaca diharapkan dapat dituntun untuk lebih cerdas menilai musik tidak hanya saja dari segi melody nya tetapi dari beberapa aspek dan kultur yang lain. Semaraknya musik Indy di pasaran juga memang memperkaya khasanah musik Indonesia melalui bunyi-bunyian dan nyanyi-nyanyian yang mempunyai ide yang inovatif dan kreatif. Disisi ini musik Indonesia dipandang jauh lebih maju ditambah unsurdesign cover dengan konsep yang berbeda menambah musik-musik ini collectable untuk dinikmati.

Akan tetapi disini lain, gegap gempita diluaran nampak disibukkan dengan segement musik yang sudah mulai melebur, celakanya batasannya menjadi tidak jelas. Terjadi bias dan distorsi terhadap alur penggemar musik Indonesia. Coba tengok kebelakang, kalau tahun 1970an segmentasi pasar musik Indonesia dibagi atas musik gedongan dan musik kampungan, jelas bahwasanya musik gedongan itu adalah musik milik kaum menengah ke atas, sedangkan musik kampungan atau pinggiran ini adalah milik musik kaum menengah kebawah.

Tahun 80an juga demikian peta musik Indonesia dibagi menjadi Pop Kreatif , Pop Cengeng dan Dangdut. Pop Kreatif selalu diwarnai musik-musik Indonesia waktu itu sebagaimana era 80an penuh dengan synthesizer seperti new wave dan sentuhan jazzy seperti PT Aquarius Musikindo mengkompilasikan kaset yang beredar pada era tersebut dengan judul: “Mereka Menyebutnya Pop kreatif” yang berisi kompilasi Ruth Sahanaya, Oddie Agam, Vina panduwinata, Sheila Madjid, Fariz RM, dll. Lalu siapa kala itu yang mewabah termasuk dalam Pop Kreatif ? didalamnya tentu saja ada 2 D (Deddy Dhukun dan Dian Permana Putra), Sheila Madjid, Ruth Sahanaya, KLa Project, Atiek CB, Hari Moekti, Januari Christy, Fariz RM, Vina Panduwinata, Utha Likumahuwa, Krakatau, Karimata dll.




Sedangkan Pop Cengeng tentu saja sekitar Rinto harahap, Pance, Obby Mesakh C, JK Records dengan artis-artis orbitannya seperti Betharia Sonata, Iis Soegianto, Ratih Purwasih, Dian Piesesha, Nia Daniaty, Ria Angelina dan lain-lain. Dalam dangdutpun jelas kelihatan penyanyi-penyanyi dan musisi dangdut selain Raja dan Ratu Dangsut, Rhoma Irama dan Elvie Soekaesih seperti Evie Tamala, Iis Dahlia, Mirnawati hingga Rita Soegiarto dan sederetan artis yang masuk kategori Dangdut Remix lainnya meskipun ada pembaharuan dengan menggabungkan Disco dengan dangdut namun musik dangdut sempat menjadi kotak tersendiri waktu itu.

Lalu bagaimana peta musik Indonesia era sekarang. Setelah terjadi ledakan band Indonesia lengkap dengan segala kreatifitasnya seperti Dewa 19, Slank, Padi, Sheila On 7, Samsons, Cokelat, Naif, Nidji, dan Peterpan maka terjadilah leburan dahsyat yang kaum pinggiran dan kaum masyarakat kebanyakanpun mulai menyukai lagu-lagu dengan forma band-band Indonesia.




Namun band band mapan tersebut kemudian mulai kegeser populeritasnya disaat terjadi peleburan dan berkurangnya pamor dangdut di blantika musik Indonesia, maka mulailah band-band kurang kualitas …maaf (kalau ada yang tidak berkenan) macam Radja, Ungu, ST12, Wali, Kangen, D’Bagindas, Armada, The Potters dan beberapa band yang minim kualitas tapi mendapat sambutan luar biasa dari semua kalangan karena terjadinya peleburan koneksitas penggemar yang tidak jelas dari strata sosial yang berbeda baik strata sosial menengah ke bawah dan menengan ke atas..




Jujur beberapa rekan saya menolak kalau kelompok-kelompok musik seperti ini disebut kelas “kacangan” atau rendahan. Padahal kalau mau jujur mereka berangkat dari hal yang sama yang mendasari pergerakan musik mereka. Mereka mencoba mencari sensasii dengan lirik yang sederhana dan terkadang kurang kurang pas/mengena, melodi yang parah, suara yang biasa-biasa saja namun gegap gempita penyambutnya luar biasa.

Trinity Optima memang sedang panen dengan UNGU dan ST12.Apalagi selalu kerjasama dengan setiap sinetron baru untuk mengedepankan lagu unggulannya. Itulah strategi promosi yang mau nggak mau pendengar biasa populer dengan lagu itu misalnya ST12 dengan lagu “ Biarkan Aku Jatuh Cinta” dari Soundtrack Sinetron Safa dan Marwah dii RCTI. Agaknya ada kecenderungan saling dukung antara pihak perusahaan rekaman berkolaborasi dengan rumah produksi pembuat sinetron dan stasiun televisi yang lagunya dijadikan tema untuk sinetron-sinetron baru di RCTI.

Kedua kelompok musik unggulan Trinity Optima seperti Ungu dan ST12 ini yang paling laku. Trinity Optima juga bernai membayar mahal untuk membuat konser di televisi swasta untuk menaikkan kibaran benderanya dengan kedok Mega Concert Tidak saja sekaliber mereka Kangen Band, Wali dan beberapa kelompok musik yang tidak jelas mulai menyerbu pasar musik Indonesia. Populeritas Kangen Band dan Raja pun semakin digemari dan mendudukkan posisi mereka bahwa semakin dicaci maki semakin membuat nama mereka semakin melambung.

Runtuhnya dominasi lagu-lagu barat dan dikebirinya program MTV di Indonesia yang mempopulerkan lagu-lagu barat menyebabkan laju lagu-lagu Indonesia menjadi tak terbendung. Namun sayangnya justru munculnya berbagai genre musik di Indonesia yang semakin kaya, agaknya mayoritas pasar tidak peduli dengan lagu yang mereka suka. Itulah kenyataanya. Lagu Indonesia model ini agaknya yang laku dipasaran, diacara sok-live show (padahal playback ….begitu minus one nya rusak maka tata panggungnya bikin malu-maluin)….di televisi yang meriahkan oleh para Alay (sebutan para ABG Lebay) dengan antusias. Penggemar UNGU seperti mbak mbak dan ibu-ibu rumah tangga seolah olah kesihir dengan kegantengah Pasha Ungu yang menurut mereka Pasha itu ganteng.

Sebetulnya musik Charly itu ada bagusnya seperti Saat Terakhir, namun setelah mendalami lebih dalam lagi….alamakkkk …itu sok Malay banget! Celakanya Charly sudah menabur pesona dengan beberapa tindakan kemanusiaan yang sempat membuat para fansnya ST Setia semakin histeris dan dicintai. Dengan disanjungnya Charly sebagai New class hero di kalangan penggemarnya belakangan ini muncul plagiat plagiat atau pengekor-pengekor Charly yang mencoba mendayu-dayu sok ke melayu melayuan seperti Hijau Daun dan D’Bagindas.

Coba tengok kebelakang ketika terjadi serbuan Rock-Rock Kampak ala Malaysia yang ditunggangi oleh Amy Search dengan Isabela yang fenomenal itu, lagu Isabella hampir diketahui semua lapisan masyarakat bahkan saya pernah dengan dimunculkan juga polemik Isabella dalam ceramah Khutbah Shalat Jumat. Saking fenomenalnya munculah serbuan kamikase kumpulan rock Melayu lainnya seperti IKLIM, MAY, UKS yang so-boring-monotonous-beat dan lain-lain sempat memataharangkan lagu-lagu dari supergrup di Indonesia.

Namun musisi-musisi Indonesia dengan sigap menyatakan bahwa musik Indonesia jauh lebih baik dan berkualitas dibanding dengan musisi-musisi Malaysia.
Sentimen dengan Malaysiapun muncul setelah diadaptasinya lagu Rasa Sayange dalam Iklan Visit Malaysia dan juga diclaimnya beberapa budaya Indonesia oleh Malaysia. Namun belakangan ini seolah terjadi trend fashback seolah-olah lagu-lagu Indonesia kembali bergelayut dan mendayu-dayu. Sementara lagu-lagu Indonesia yang dikomandoi Charly seolah siap untuk memajukan lagu dengan cengkok dan gaya yang ke Melayu-Melayuannya siap untuk menggebrak blantika musik Indonesia.

Sebetulnya masalahnya syah-syah saja orang berkreatifitas. Kita serahkan bagaimana saja publik menilai. Saat ini memang musik-musik Indonesia dimonopoli seperti musik itu yang lagi diatas angin. Tema-tema yang menarik publik dan yang menggelitik itulah yang sedang digandrungi. Peleburan masa penggemar musikpun masih belum bisa terpisahkan, namun paling tidak saat ini terdapat kubu yang disebut sebagai Band yang dibenci dan dicaci maki. Minimal Radio-radio di Ibukota yang dianggap elit merasa enggan untuk mempublikasikan lagu dari kalangan kedua ini. Ini berarti bahwa pola musik Indonesia masih terdapat pengkotak-kotkan terhadap musik.

Dibalik itu masih banyak musik Indonesia yang bagus dan berkonsep seperti The Changchuters, Vierra, Alexa, Run, Andra & The Backbone, Geisha, Kotak, D’Masiv, Kerispatih, D’Cinnamon, Ten2Five, dan Letto. Demikian juga dengan penyanyi-penyanyi idola yang sukses seperti Afgan, Vidi Aldiano, Pasto dll. Minimal paling tidak karya-karya mereka masih enak didengar dan mempunyai pasar yang besar Cuma disinilah terjadi peleburan yang tidak jelas dipasar karena masyarakat umum mendua dalam menggemari genre musik yang ada. Yang suka Alexa dapat juga suka Ungu atau ST12.

Majalah Rolling Stones yang beberapa edisi lalu pernah mencantumkan 150 lagu Indonesia Sepanjang Masa itu patut diacungkan jempol. Diluar dugaanpun yang menjadi lagu sepanjang Masanya sama sekali tidak mencantumkan grup band yang lagi digandrungi sekarang, bahkan dengan “diluar dugaannya” justru memasukkan lagu-lagu tahun jebot yang sudah banyak dilupakan orang, tapi justru kaya kualitas. Itulah yang kita harapkan kualitas jauh lebih diutamakan daripada kuantitas.

Musik Indonesia saat ini secara kuantitas memang banyak dan beragam, namun sayangnya yang menjadi sangat digemari justru yang berkuantitas buruk. Mudah-mudahan kemunduran seperti ini hanya sesaat artinya musik-musik yang miskin kreatifitas segera tersisihkan oleh musik-musik yang benar-benar mempunyai kualitas. Akhirnya Hidup Musik Indonesia, berkibarlah dan majulah anak bangsa dalam berkreasi lewat musik.

Pendapat pribadi Pramudya Sulaksono
Pemerhati Musik Indonesia sejak tahun 1980an (sulaxono@yahoo.com)